Mereka diusir warga karena dicurigai sebagai bagian dari gerakan terorisme. Lantas bagaimana komentar para santri tersebut atas tudingan miring itu? "Kami bukan teroris. Kami di Darul Akhfiya untuk menghafal Al Qur'an," kata Khoirul (18), santri yang sudah satu tahun belajar di Ponpes tersebut.
Khoirul merupakan warga asli Tulungagung. Oleh orang tuanya, ia disuruh belajar di Darul Akhfiya. Menurutnya, tidak ada hal yang aneh saat belajar di kelompoknya itu. Setiap hari, mereka selalu belajar mengaji, lebih spesifiknya menghafal Al Qur'an. "Darul Akhfiya merupakan Ponpes Tanfidzil Qur'an (pengahafal Al Quran), jadi setiap kami diajari mengaji," katanya.
Lantas bagiamana dengan latihan bela diri yang digelar setiap petang? Khorul mengakui, semua santri ikut kegiatan bela diri itu. Akan tetapi, hal tersebut hanya sebagai sarana berolahraga saja, tidak lebih. "Bela diri kan olahraga. Jadi bukan sesuatu yang aneh," tambahnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Jito (19), santri Darul Akhfiya asal Sumbawa. Jito mengaku, sudah satu tahun belajar di Ponpes tersebut. Ia juga keberatan jika kegiatan yang dilakukannya dianggap membuat keresahan di masyarakat. Karena, kata Jito, kegiatan yang ia lakukan hanya mengaji. Sedangkan bela diri, hanya sebagai selingan saja.
"Olahraga bela diri itu hanya untuk kegiatan selingan saja. Kegiatan utamanya ya menghafal Al Quran. Dengan begitu ada keseimbangan antara jasmani dan rohani," katanya sembari menebar senyum.
Namun baik Jito maupun Khoirul enggan menjawab ketika disinggung tentang berapa juz Al Quran yang sudah mereka hafalkan. "Yang pasti kami ini bukan teroris. Kami di Ponpes untuk menghafal Al Quran," kata pria yang sama-sama mengenakkan celana yang tingginya di atas mata kaki ini.
0 comments:
Post a Comment