Friday, January 6, 2012

Sedekah dan Bersihnya Jiwa Seorang Anak.

Publish: "Friday, January 6, 2012",

“Abi kok sudah lama nggak kasih uang buat mereka,” nada itu terdengar begitu polos namun cukup untuk membuat saya menghentikan kendaraan.

Saya memang sering terlupa untuk menunjukkan secara langsung kepada anak-anak cara berinfak. Meskipun untuk melakukannya seringkali dan tak selalu di depan mereka. Padahal, justru dengan melakukannya langsung di depan mereka, setiap orang tua tengah mengajarkan sikap kedermawanan, kepedulian, dan semangat berbagi. Ini yang nampaknya sering terlupa dari saya untuk tetap konsisten menerapkannya.

Teguran dari salah seorang anak saya tadi, tentu saja menunjukkan bahwa mereka tetap membutuhkan konsistensi keteladanan yang pernah kita ajarkan sebelumnya.

“Ini pegang ya, tolong dikasih nanti kalau ada petugas pengumpul infak di pinggir jalan lagi,” seru saya kepadanya.
“Terlambat, Bi, sudah lewat petugasnya,” Duh, dua kali kalimatnya menohok saya.

Saya pun hanya menjelaskan, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan. Boleh jadi kita kehilangan kesempatan pertama untuk berbuat baik, tapi semestinya kita yakin bahwa Allah senantiasa memberikan kesempatan berikutnya, dan memang, jika kita mau mengambilnya dengan cepat, kesempatan itu selalu ada, terus menerus menghampiri. Inilah uniknya, kesempatan sering tak datang dua kali. Tetapi untuk sebuah kebaikan, justru ianya yang kerap menghampiri, namun kita-lah yang mengabaikannya.

Benar saja. Lima menit lebih sedikit setelah saya memberikan masing-masing selembar ribuan kepada dua anak saya, kami pun melintasi barisan petugas pengumpul infak masjid di jalan raya Parung. Padahal, dengan uang di tangannya itu anak saya sempat mengancam, "Kalau nggak ada lagi, uangnya buat jajan Hufha aja ya...."

Saya menanggapinya dengan senyum, sebab saya tahu persis, sepanjang jalan raya Parung, Bogor, kita dapat menemui lebih dari satu barisan petugas pengumpul infak. "Abi benar, kita belum terlambat" Senangnya anak-anak memasukkan uang itu ke jaring yang disorongkan petugas ke kendaraan kami yang memperlambat lajunya.

Pelajaran pagi kemarin, semoga menjadi segurat catatan yang tak lekang tersimpan dalam lembar memorinya, bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk peduli, jangan pernah berpikir untuk tak berbagi hanya karena waktunya tak tepat.

Dan tetaplah memelihara semangat berbagi kapan pun, sekali kesempatan terlewati, jutaan kesempatan lainnya pasti menunggu, bahkan menghampiri.

Sejumput doa pun terucap, semoga seluruh keturunan kami menjadi orang-orang yang peduli, memiliki semangat berbagi. Kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Saya yakin Tuhan mendengar harapan sederhana ini, karena saya bisa merasakan senyum-Nya hari itu.

Alangkah naifnya bila ada seorang manusia yang berhasil meraih aneka keberhasilan duniawi namun ia tidak memahami bahwa misi hidupnya adalah pengabdian kepada Rabb Pencipta jagat raya yang sejatinya telah mengizinkan dirinya meraih berbagai keberhasilan itu

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku." (QS. Adz-Dzaariyat [51] : 56)

Selanjutnya, Allah سبحانه و تعالى menjelaskan bahwa segenap bentuk pengabdian atau ibadah yang dilakukan manusia di dunia hendaklah ditujukan dalam rangka menggapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai manusia, ber-ibadahlah (sembahlah) Rabbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2] : 21)

Demikian pula halnya dengan syariat ibadah syiam (berpuasa). Allah سبحانه و تعالى telah mewajibkan orang beriman mengerjakan puasa agar meraih taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2] : 183)

Taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى merupakan perkara yang sedemikian pentingnya, sehingga tidak ada seorangpun khotib jum’at menyampaikan khutbahnya kecuali mesti mengandung nasihat taqwa kepada jama’ah sholat jum’at. Selanjutnya biasanya sang khatib mengutip ayat Al-Qur’an berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran [3] : 102)

Bila Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang beriman agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, berarti ada pula sebagian orang yang mengaku beriman tidak mencapai taqwa yang sebenar-benarnya alias taqwa yang tidak sebagaimana dikehendaki Allah سبحانه و تعالى . Bagaimanakah taqwa yang sebenar-benarnya taqwa itu? Apakah indikatornya?

Ternyata di dalam Al-Qur’an kita jumpai ayat yang menjelaskan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى niscaya akan memperoleh furqan.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan . Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Anfaal [8] : 29)

Seorang Muttaqin diberikan Allah سبحانه و تعالى karunia besar berupa “furqan” (kemampuan membedakan antara al-haq/kebenaran dengan al-bathil/kebatilan). Seorang muttaqin tidak mudah hanyut mengikuti arus kebanyakan manusia yang sudah terbiasa mencampur-adukkan keduanya. Jelas ini merupakan buah taqwa yang sangat penting dan mendasar. Inilah di antara indikasi utama seseorang tidak sekedar bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى tetapi bahkan mencapai sebenar-benarnya taqwa. Dan Allah سبحانه و تعالى melarang keras manusia mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil.

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] : 42)

Bila seseorang, apalagi suatu masyarakat, sudah terbiasa mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil, maka masyarakat itu bakal mengorbankan al-haq dan memenangkan al-bathil. Penulis sangat khawatir bahwa gejala inilah yang telah mendominasi masyarakat kita, sehingga tidak ada satu kasuspun yang terjadi di negeri ini kecuali penyelesaiannya tidak sampai menyentuh akar masalahnya. Mengapa? Karena sebagian besar fihak yang bertanggung-jawab sudah “tahu sama tahu” bahwa mereka semua terlibat di dalam menyembunyikan al-haq. Maka dalam masyaratkat seperti itu selalu saja yang keluar sebagai “pemenang” adalah al-bathil.

Itulah yang Allah سبحانه و تعالى sebutkan di dalam ayat di atas. Bahwa jika manusia mengabaikan larangan mencampuradukkan al-haq dengan al-bathil pasti mereka bakal menyembunyikan al-haq. Dan di lain sisi mereka bakal “memenangkan” al-bathil. Dan itu berarti bahwa mayoritas manusia yang mengaku beriman di dalam masyarakat tersebut belum mencapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى dengan sebenar-benarnya taqwa...! Sebab terbukti bahwa ketaqwaan yang mereka miliki tidak sampai menghasilkan furqan.

Lalu bagaimanakah kita dapat membedakan antara al-haq dengan al-bathil itu? Adakah tolok ukur yang jelas bahwa seseorang telah meraih taqwa yang menghasilkan furqan atau kemampuan membedakan antara al-haq/kebenaran dengan al-bathil/kebatilan? Apalagi kita yang hidup di era modern ini dimana fitnah telah begitu merajalela, sanggupkah kita tetap melihat bahwa yang benar itu adalah benar dan yang batil itu adalah batil? Padahal seruan dan ajakan yang berkumandang dewasa ini sedemikian banyak dan beraneka-macamnya.

Kalau kita merujuk kepada ucapan Allah سبحانه و تعالى di dalam Kitabullah Al-Qur’an, ternyata betapapun banyak dan beraneka-ragamnya seruan di tengah dunia modern penuh fitnah dewasa ini, pada akhirnya Allah سبحانه و تعالى menerangkan bahwa pada hakikatnya hanya ada dua seruan saja: ajakan kepada al-haq/kebenaran dan ajakan kepada al-bathil/kebatilan. Tidak ada bentuk ajakan selain kedua jenis tersebut.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

"Kuasa Allah, yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (kebenaran) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah Al-Bathil (kebatilan), dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Hajj [22] : 62)

Oleh karenanya doa yang kita panjatkan kepada Allah سبحانه و تعالى berbunyi:

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه إنك سميع مجيب

"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa."
Seorang Muttaqin tidak puas hanya dengan kemampuan melihat yang benar sebagai kebenaran. Tapi lebih jauh lagi ia memohon kepada Allah agar dirinya memiliki wala’ (loyalitas) untuk selalu berfihak kepadanya. Demikian pula, ia tidak puas hanya dengan kemampuan melihat yang batil sebagai kebatilan, tetapi ia memohon lebih lanjut agar dirinya senantiasa bara (berlepas diri/memutuskan hubungan) dengan al-bathil.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150398114500210

Penulis : Arwiesmart ~ Sebuah Blog Informasi dan Berbagai Artikel

Artikel Sedekah dan Bersihnya Jiwa Seorang Anak. ini dipublish oleh Arwiesmart pada hari Friday, January 6, 2012. Semoga Informasi dan Artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini.

.:: P a s a n g I k l a n ::.

0 comments:

Post a Comment

Untuk para sahabat yang ingin penghasilan halal dan modal Punya Handphone & bisa ber-sms (program ini tidak memotong pulsa dan tidak mengharuskan transfer uang). Silakan bergabung bersama saya. Klik

Bisnis online termudah, Bahkan jika Anda seorang yang awam sekalipun, Anda pasti bisa menjalankan bisnis ini. "Bukan member get member". http://www.idsurvei.com/survei/arwiesmart/ .

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...